Keindahan

Siapa yang paham bahwa takdir itu kita?

Siapa yang menyangka bahwa kita bagian takdir?

Siapa yang tidak bingung ketika ketetapan menyapa kita?

Inilah sebuah keindahan takdir

Pertama kali nafas berhembus kita tak mengenal satu sama lain

Pertama kali tangis menyeruak kita tak mengenal satu sama lain

Pertama kali kaki berpijak kita tak mengenal satu sama lain

Kini kita paham dengan segalanya

Angin takdir membawa kita dalam kedekatan

Kebersamaan yang kita rencanakan abadi

Dimana nafas terakhir berhembus kita bersama

Dan dimana kaki terakhir berpijak kita bersama

Karena keindahan takdir akan selalu indah

Begitupula takdir memberikanmu sebutan indah

31-08-2016

Aku berteman dengan takdir

 

Advertisements

Sekejap

Hadirnya bisa dihitung dengan bilangan waktu

Waktu yang kupakai untuk mengenalnya

Mengenalnya adalah permainan sang takdir

Takdir kita disamakan oleh persepsi acak

Tempat yang sangat kita kenali

Mengenalinya bukan melalui bunga

Bunga tidurpun kurasa bukan

Bukan suatu kebetulan kecintaan kita akan kopi

Entah maksud apa yang Tuhan inginkan

Keinginanku jelas tak bisa kupaksakan

Memaksanya untuk tetap bertahan jelas tak mungkin

Mungkin hanya sekejap waktu yang kita punya

Kuharap perginya tak akan lama

Lama atau sebentarnya waktu tetap saja beda

Perbedaan memang membatasi ruang gerak kita

Kita kembali bertemu bukan sebagai kita yang sekarang

26-08-2016

Hadirnya senja hanya sekejap

Penjagal Modern

Puisi ini kutulis sendiri

Sekali lagi aku ingatkan kepada para penjagal

Puisi ini kutulis sendiri

Jangan salahkan buih-buih ombak

Salahkan saja aku

Atau jika ombak merasa bersalah

Akui saja kepadaku

Tentu saja itu tak akan terjadi

Pasti tidak akan terjadi

Sang penjagal ini berbeda dengan kaumnya

Perlahan demi perlahan

Sedikit demi sedikit

Bahkan tega secuil demi secuil

Malaikat kecil tak berdaya dengan kehidupan barunya

Sang penjagal memang penjagal

Tak ada kata lain siapa yang datang

Entah dimana hati nuranimu

Wahai sang penjagal

Kelak kau akan membutuhkan kami

Mungkin bukan sekarang, besok, lusa ataupun nantinya

Tapi kami yakin kau bukan kaum kami

17-02-2013

Keresahan kepada “Sang Penjagal Modern”

Lady

Wajah di kala pertama sulit kulupakan

Bunga-bunga mimpi indah buktinya

Entah kapan keaslian itu kulihat

Hanya terbersit ingatan kecil

Lamanya waktu berputar tidak terasa

Akhirnya penantian panjang kujumpa

Lady keluar dari mulutmu

Keaslian, pesona keindahan, cerminan bak bidadari

Sulit kuhapus memori lama

Bahkan kutambah terus-menerus

Itu saja tidak cukup untuk menghapus dahaga ini

Ingin kuerat dan kujaga kau selamanya

18-03-2013

Pertemuan pertama dengan “Bintang”

Kejujuran

Jika kata tidak sulit terucap

Bagaimana dengan kata iya

Sulitkah terucap juga?

Kelukah lidahmu karenanya?

Kejujuranku memang begitu cepat bagimu

Tapi tidak bagiku

Karena sempat kupendam

Hingga sampai dan tepat pada titiknya

Kini kejujuranku itu sebatas kejujuran

Kau pun hanya dapat terdiam dan membisu

Tanpa sempat membalas semuanya

Dan tanpa memberikan akhir cerita

Harus kumulai darimana?

Sampai kau dapat memberikan akhirnya

Harus kuperbuat apa?

Sampai kau dapat merasakannya

Kuharap kau bisa menerimanya

Dan menjadikan aku Sang Raja

Di istana kita kelak

16-06-2013

Menanti sebuah jawaban

Kacamata

Hampir lupa dengan adanya kau

Kupandangi bertahun-tahun lamanya

Kau hadir setiap kubutuhkan

Hampir separuh waktuku untuk memandangi kau

Tapi kenapa aku bisa jatuh hati dengan yang lain?

Betapa bodohnya aku ini

Jelas-jelas kau hadir dekat sekali

Kau yang pertama kali kupandangi di kala pagi hari

Dan kau yang terakhir kali mengucapkan salam di malam hari

Betapa bodohnya aku ini

Melupakan kau begitu saja

Kau adalah mata air untuk hidupku

Kau juga arah angin untuk hidupku

Kuberlayar bersamamu hampir tanpa jeda

Jeda singkat yang lewat sekejap

Dan itu membuat kulupa akan hadirmu

Maafkan aku yang luput dan khilaf

Kan kutebus dengan semua pengabdianmu

03-11-2014

Kekasih mata yang terlupakan

Ibu

Banyak orang menyebut namamu

Tapi sulit meresapi makna kehadiranmu

Akupun awalnya sama

Ya, sulit meresapimu dengan seksama

Maafkan aku yang besar kepala

Maafkan aku yang banyak dosa

Entah dengan apa kubalas kasihmu

Kau kucurkan tiada henti kasihmu

Sampai darahmu rela kau teteskan

Darahku sangat hina untuk kuteteskan

Kegalauanmu kau pendam

Kegalauanku kulampiaskan kepadamu

Sujud di kakimu bentuk cintaku

Sujud dan sujud selagi nafas berhembus

17-03-2013

Tersadar dengan kasih tulusmu